Sabtu, 15 Maret 2014

Murbei, Si Hitam Manis Kaya Manfaat



Waahh...setelah sekian lama akhirnya saya tahu juga nama buah yang selalu saya rindukan ini disetiap pulang ke rumah nenek di Kabupaten Kerinci. Kemaren secara tidak sengaja saya menemukannya ketika sedang search di google dan mata saya langsung berbinar-binar melihatnya.

Jangan ditertawakan ya….. hehe…, saya benar-benar baru tahu kalo buah yang sering saya dan sepupu buru bahkan menjadi rebutan ketika bermain dikebun nenek ini nama nya MURBEI. Dulu, ketika masih rajin-rajinnya keperpustakaan saya sering sekali menemukan kata Murbei dan ulat sutra di buku cerita yang saya baca, sayangnya bukan buku cerita bergambar jadi saya selalu membayangkan seperti apa daun Murbei yang disebutkan sebagai makanan pokok ulat sutra ini. *Ini karena di tempat kami belum ada budidaya Ulat Sutra*

Sebenarnya sudah sangat lama saya mengenal buah ini, bahkan sering menjadi target buruan saya dan para sepupu sejak kecil. Setiap pulang kampung ke Kerinci, nenek tak pernah lupa mengajak kami bermain di kebunnya (“Ladang” kami menyebutnya) yang dipenuhi dengan pohon Kayu Manis (casiavera). “(Oh ya…, sekedar informasi : Kulit kayu manis memang menjadi komoditi utama masyarakat Kabupaten Kerinci selain kentang, cabe dan kol)”. Perjalanan kesana biasanya dilalui dengan berjalan kaki sekitar 15 menit dengan medan menurun dan mendaki bukit, saya yang terbiasa hidup di daerah rawa dan gambut seringkali mengeluh karena kelelahan, namun sesampai disana rasa lelah yang kami rasakan langsung hilang ketika disuguhi pemandangan alam yang sangat menakjubkan dengan hamparan hutan yang hijau serta pohon-pohon yang menjulang tinggi, dan dengan rasa gembira perburuan kami akan buah-buahan hutan yang tumbuh dengan liar pun dimulai…
dikelilingi TNKS, keliatan Gunung Kerinci juga...:)

Ladang nenek dan seluruh ladang masyarakat desa kami memang dikelilingi oleh hutan lebat milik Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang dilindungi, oleh karena itu tak seorangpun berani asal tebang pohon-pohon yang ada meski sudah terlihat tua dan rapuh. Namun meski dikelilingi hutan belantara, ladang nenek sendiri terlihat bersih dan sangat rapi oleh jejeran pohon kayu manis dan tanaman-tanaman pendukung lainnya seperti Kopi, Cabe, Kentang, Kacang, dan lain-lain.

Diantara tanaman-tanaman tersebut, nenek juga rajin menanam buah-buahan sebagai pemanis kebunnya seperti buah markisa, Alpokat, Bengkoang, jeruk, semangka dan lain-lain yang berbuah mengikuti musimnya, buah-buahan inilah yang sering menjadi target buruan kami disamping tumbuhan-tumbuhan liar yang kami temukan disekitar ladang yang tidak kami ketahui namanya.

Ketika bermain dan berlari kesana kemari, sering kali kami menemukan buah-buahan hutan yang sangat asing namun enak dan manis sekali, kami akan berteriak kegirangan ketika menemukannya diantara rerumputan atau menyempil diantara tanaman Kopi atau kacang. Dan salah satu yang sering saya temukan adalah pohon Murbei ini yang tingginya bervariasi antara 1-2 meter. Bentuknya bulat dan lonjong dengan warna merah dan ungu kehitam-hitaman. Rasa buahnya jika yang masih hijau kemerah-merahan terasa asem manis, tapi jika sudah masak alias merah atau ungu rasanya enak dan manis sekali.

Nama lain murbei adalah Morus alba L atau Morus Indica L, dikenal juga dengan nama daerah kerto, kitau dan kalo kata emak saya, di kerinci buah ini dikenal dengan nama “buah semuk” (bener gak ya bahasanya? hehee…. ). Tanaman murbei ini aslinya berasal dari china dan menyebar luas keseluruh dunia dimana ia mudah tumbuh di daerah yang beriklim tropis dan subtropis, serta dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian lebih dari 100 mdpl serta cukup matahari dengan ketinggian pohon hingga mencapai 9 - 12 meter dan diameter hingga 0,5 cm.

Dan setelah saya cari info tentang tanaman ini, selain bermanfaat sebagai pakan ulat sutra ternyata juga sangat berkhasiat dalam menjaga kesehatan. Beberapa diantaranya adalah :
Buahnya
berguna sebagai obat anti oksidan yang mampu mencegah rusaknya sel-sel tubuh karena radikal bebas sehingga dapat membuat kita awet muda. Kemudian dapat membantu system imun bagi tubuh karena buah murbei memiliki kandungan alkaloid yang kaya akan macrophages yang terdapat dalam sel darah putih. Menyeimbangkan gula darah juga bisa ternyata (wahh…bisa jadi alternative obat buat diabetes ibu saya nich..:)). Murbei juga banyak mengandung  Nutrisi seperti protein, vitamin C, vitamin K serta serat sehingga enak dijadikan buah untuk cemilan sehat.

Daunnya
Dapat digunakan sebagai obat demam, malaria dan peluruh air seni, caranya adalah Daun segar 50 gram direbus dengan 3,5 gelas air selama 15 menit samapai mendidih, dinginkan, kemudian peras dan saring. Minum airnya 3x sehari. 

Pengen tau donk, kalo didaerah kalian apa nama buah Murbei ini? share dimari ya………



28 komentar:

  1. mak, dikampungku dulu di kalimantan juga banyak buah ini...oh ini namanya murbai tho?...hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku juga baru tau, mak....hihihii.....

      Hapus
  2. wua.....jadi pengen ke kerinci lagi....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tetanggaan kita, mak..........:)

      ayo maen ke Kerinci lagi...

      Hapus
  3. Di tempatku juga disebut murbei.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihii...orang Sumatera suka beda nama sich, mak....jadi bingung,, hehee...

      Hapus
  4. Saya belum perbpnah liat langsung mbak.. cuma dengar dan tahu aja si murbei ini. Kalo rasanya manis,,pasti saya suka :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo udah ungu kehitam-hitaman, manis banget, mbak....:) cuma skrg udah jarang juga nemu nya...:)

      Hapus
  5. sekali-kalinya nyicipin itu si murbei, ampe sekarang masih keinget rasanya unyu2 gimanaaa gitu, :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya jg suka bgt sama buah ini. Manisss bgt...:)

      Hapus
  6. merebusnya pake panci alumunium gpp mba?

    BalasHapus
    Balasan
    1. pakai periuk tanah liat lebih bagus Mbak

      Hapus
    2. Sebenarnya direbus pake media apa aka gak msalah menurut saya,mbak..
      Ibu saya biasanya kalo ngerebus obat diabetes nya pake periuk aluminium kecil.

      Hapus
  7. saya malah lihat ni buah mbak..hehe

    BalasHapus
  8. di jogja juga murbei namanya Mbak, saya suka banget, tetangga saya punya pohonnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duuh, enak bgt mbak khusna bisa icip buahnya kapan aja, kalo saya harus pulang tempat nenek dulu, hehehe

      Hapus
  9. Saya malah baru tahu buah seperti itu.

    Pemandangannya indah sekali, Mbak. Jadi pengen jalan-jalan ke sana. Kerinci dan Sarolangun berdekatan kah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehheee....., kalo saya udah tau dari kecil tapi gak tau kalo nanya murbei sich, hehee....,, Kerinci deket sama Sarolangun...., sebelahan...:)

      Hapus
    2. Berarti kalau (seandainya) saya ke Sarolangun bisa sekalian mampir, *eh

      Hapus
  10. murbei ini sering dijadikan makanan penghias sama orang2 bule.. kelihatan cantik,, nggak kalah sama strawberry warnanya,

    *salam kenal ya*

    Brillie,
    http://antie.info

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh, gitu ya...wah, Berarti byk jg manfaatnya ya, kirain cm buah hutan aja yg gak begitu dikenal...he he he...

      Salam Kenal jg ya.., mkasih sudah mampir...

      Hapus
  11. Jarang makan buah Murbei ini sih, soalnya rada jarang. Masih kalah saing sama stroberi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. emang gak terlalu terkenal buah ini, mbak...mungkin karena jarang yang budidaya untuk cemilan seperti stroberi. tapi rasanya gak kalah kok rasanya..... hehee...

      Hapus
  12. kayanya belum pernah nemu nih ka di Bogor, paling liat di tv tv aja hihi.. jadi pengen nyoba deh :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mungkin buahnya kurang dibudidaya, cuma daunnya doank yg dipake, makanya jrg di publish buahnya.

      Kali menurut kakak lebih manisan murbei daripada stroberi. Stroberi mah asem...he he he...

      Hapus
  13. Q pny pohon murbai,buah'a manis&imut2,br tau manfaat'a bnyk.bnyk yg pinta bwt obat.

    BalasHapus