Senin, 01 Juli 2013

Impianku Dulu dan Kini



Impian masa kecilku bermula ketika aku menderita penyakit kulit ketika berumur 7 tahun, cara Dokter dan Perawat yang dengan telaten mengobati hingga sembuh membuatku semakin memantapkan tekad untuk menjadi Paramedis seperti mereka. Mataku takkan pernah berpaling ketika berpapasan ataupun melihat dari kejauhan betapa manisnya mereka dengan pakaian serba putih. Apalagi saat rumah kami bertetangga dengan Mantri yang ditugaskan ditempat Ayahku berdinas, setiap pagi aku akan berlari kerumahnya dan akan terkagum-kagum dengan semua alat medis yang dipakainya. Meski takut dengan jarum suntik, namun aku malah semakin jatuh cinta setiap melihat ia memegang jarum suntik. Bercita-cita menjadi Perawat adalah impian yang tak pernah berubah hingga menjelang kelulusan SMA bahkan semakin membuat aku bersemangat menjalani akhir-akhir SMA yang berat. 

Namun mimpiku kandas ketika Ayahku berkata bahwa aku tak bisa melanjutkan ke Akademi Keperawatan. Kenapa? karena untuk masuk ke Akademi tersebut kami harus menyediakan uang sekian puluh juta, lagipula tak mungkin mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat. Bahkan kudengar, untuk masuk ke Fakultas Kedokteran saja kita harus menyiapkan ratusan juta diawal. Benarkah?? Aku tak habis fikir, inikah wajah pendidikan di era ini?? Aah…sudahlah…Sepertinya aku harus mengubur jauh-jauh harapan dan mimpiku tersebut.
Aku menangis, sedih dan kecewa. tentu saja!!! namun aku bisa apa? aku yakin Allah punya rencana lain buat masa depanku nanti.


Akhirnya atas saran Saudara Sepupuku, aku mencoba mengambil jurusan Komputer Akuntansi. Impianku selanjutnya adalah bekerja di Perusahaan Swasta dengan gaji yang lumayan. Dan sekian tahun setelah itu, impianku memang terwujud. Aku menikmati hari demi hari bekerja di salah satu perusahaan swasta yang bergerak dibidang Consultan Teknik dan Manajemen di kotaku. Awalnya aku sangat menikmati pekerjaan ini, bahkan penuh dengan rasa bangga. Menyenangkan rasanya bisa bepergian ke tempat-tempat yang berbeda secara gratis dan bisa membeli apapun yang aku inginkan dengan uang penghasilan sendiri. Tanpa terasa 8 tahun aku menjalani pekerjaanku, halangan dan rintangan bukan tak ada, Suasana tak nyaman dan persaingan semakin kentara kurasa bahkan beberapa kali aku berniat resign dari kantor namun dukungan orangtua dan sahabat membuat aku terus bertahan.

Seperti yang aku yakini, Allah pasti punya rencana dibalik semua kegagalanku. Kali ini akupun akhirnya resign dari kantor yang selama 8 tahun ini aku banggakan. Aku tak punya tujuan sama sekali awalnya, yang aku pikirkan hanyalah aku ingin istirahat dari aktifitas untuk sementara waktu. Meski tak sepenuhnya istirahat sih sebenarnya karena aku kadang masih suka membantu teman mengerjakan Proyek-proyek yang sedang ditanganinya. Lumayanlah sebagai penyambung hari demi hari. 

Apa impianku selanjutnya? Entahlah, aku jadi tak ingin bermimpi lagi, aku hanya ingin menjalani dan menikmati hidupku seperti air mengalir, kemanapun takdir akan membawaku nantinya. 

Meski aku tak lagi bekerja kantoran bukan berarti aku tak berpenghasilan, dengan modal yang kumiliki dari tabunganku selama bekerja di Consultan ditambah sedikit bantuan dari orang tua, aku mencoba peruntungan dengan membuka toko souvenir kecil-kecilan di kotaku. Alhamdulillah…, semakin lama aku semakin menikmati rutinitas baruku ini. 

Awal 2013, aku dilamar oleh salah satu Partai besar menjadi Calon Legislatif (Caleg) sebagai perwakilan dari kaum perempuan. Ketika itu tak serta merta aku terima, aku harus memikirkan dan meminta pendapat berbagai pihak, baik keluarga maupun sahabat-sahabatku karena aku tak ingin nantinya malah menjadi boomerang bagi aku dan keluarga. Oh ya… diwaktu yang bersamaan aku ditawari menjadi tenaga pendidik di salah satu Sekolah Dasar favorite bahkan satu-satunya Rintisan Sekolah Bertarap Internasional (RSBI) di kotaku. 

Akhirnya aku putuskan untuk mencoba menjalani keduanya dalam waktu bersamaan, dimana sambil mengajar akupun aktif mengikuti semua kegiatan-kegiatan yang diadakan partai. 

Sekian bulan berlalu, tepatnya dibulan Mei kemaren pada saat mendaftar Pencalegan Dini di KPU, aku dihadapkan pada dua pilihan. Aku baru tau, ternyata jika kita ingin berkecimpung di dunia politik, kita harus menanggalkan pekerjaan yang berhubungan dengan pemerintahan atau yang mendapatkan gaji dari pemerintah, misalnya seperti Karyawan Swasta, Pengacara, Pegawai Negri bahkan Tenaga Honorer sekalipun. Lalu aku harus bagaimana? membuang mimpiku menjadi Anggota Legislatif atau menanggalkan profesi sebagai tenaga pendidik yang mulai nyaman aku jalani?

Dilema, berat rasanya berada di dua pilihan. Setelah berfikir selama 1 minggu dan memohon petunjuk pada Allah, akhirnya aku putuskan untuk membuang mimpiku menjadi Wakil Rakyat di DPRD. Alasanku tentu saja karena aku mulai mencintai profesiku sebagai guru. Meski tak kupungkiri, menjadi Anggota Legislatif juga pernah ada dalam mimpi-mimpiku, namun kecintaanku pada anak-anak dan lingkungan sekolah yang mulai nyaman membuatku melepaskan mimpi itu. Aku yakin ada campur tangan Allah yang mengatur semua ini. 
Impianku yang belum terwujud dan sangat aku inginkan adalah menjadi Istri dan ibu. Dan aku berharap semoga secepatnya terkabul...Aamiin...
Jika ditanya apa mimpiku selanjutnya? aku tak ingin memberi target untuk sebuah mimpi, karena dalam perjalanan yang aku alami, tak selamanya kita harus mempertahankan mimpi, namun nikmati saja semua yang Allah beri, meski itu bukan impian yang kita harapkan. Dan Aku akan menjalaninya apapun itu.

13 komentar:

  1. Penuh lika-liku juga ya mbak Emi. Kalo menurut saya sih lebih mulia menjadi guru daripada pilihan yang satunya itu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehhee....,, gitu deh,, iya, berarti pilihan saya bener ya, mbak...

      makasih sudah mampir...:)

      Hapus
  2. Saya juga dulu pengen jadi dokter, tapi ujung-ujungnya masuk akuntansi. Ahaha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. begitulah, kadang impian kita gak sama dengan kenyataan ya, mbak....so, dijalani aja...hehee...

      Hapus
  3. guru adalah profesi yg sangat mulia..ada asa dan mimpi banyak anak terselip dalam amanah guru..tp semua memang pilihan hidup ya mb..
    sukses GAnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. karena itulah, saya lebih memilih menjadi guru saja. rasanya masih belum mampu menanggung amanat masyarakat....hehee...

      makasih ya, mbak...:)

      Hapus
  4. wow! liku-likunya kayak mau ke gunung, tapi akhirnya tiba juga di gunung kn? ^^ guru itu sangat mulia, mendidik generasi bangsa

    terima kaish, sudah terdafttar yaa ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehheee.....makasih, mbak....:)

      moga kali ini menang...*ngarep*....hihihi...

      Hapus
  5. Betul...biarkan hidup ini mengalir saja hehe...dan tetap bersyukur serta semangat menjalani hdp :)

    BalasHapus
  6. perjalanan hidup yang penuh makna ya..

    BalasHapus